sekali lagi permasalahan di bangku kuiah membuat saya berpikir panjang yang pada akhirnya ikut menyeret masa depan saya kelak.
hanya kebingungan mencari judul untuk tugas PA4 malah menjadikan saya berpikir keras tentang kejelasan profesi saya sebagai arsitek nantinya.
gagasan awal saya dengan partner saya untuk membangun rumah sakit jiwa nampaknya tengah mendekati ambang ketidakmungkinan kali ini. dikarenakan alasan rumit, agaknya menjadikan surut semangat rekanan saya, pun saya demikian adanya.
sedangkan rekan saya yg lainnya tlah sepakat memikirkan area one stop entertainment sebagai gagasan final mereka.
saya sedikit memicingkan mata dan berkeluh tentang ide ini.
tampak sebagian besar dai diri saya menolak kesenangan meramaikan pasar komersil di Indonesia. dan dengan perlahan saya menarik garis batas. nurani saya tidak ingin saya ikut-ikutan berpawai menyemarakkan Indonesia yang tergesa-gesa menuju modernitas.
sedikit raskal saya berucap
saya kurang cocok menggarap area "one stop entertainment". sudah banyak permukiman digusur dan sawah maupun perkebunan digarap hanya karena memenuhi ambisi-ambisi investor demi terciptanya modernitas di jagad Indonesia raya. sudah banya mall di Indonesia, banyak apartemen mewah dan hotel berbintang yang pada akhirnya prosesi modernitas yang kurang matang malahan menggeser nilai-nilai sosial sehingga beralih pada pemikiran serba praktis, serba konsumtif, dan serba apatis. ebagian besar arsitek-arsitek sudah memikirkan gagasan tentang mall, tentang apartment, resort dan berbagai hal komersil lainnya. hal ini mulai menggelitik saya, menarik keluar pemikiran kolot dan kedaerahan saya. menjadikan saya berpikir untuk membangun bangunan sosial yang diperuntukkan untuk smua masyarakat. kolot memang dan sangat kuno kedengarannya. atau bahkan terasa klise bagi banyak orang. seorang mahasiswi malas dan konyol seperti saya yang seringkali memilih aktifitas lain daripada duduk manis di bangku kuliah memiliki pemikiran sok mulia spereti ini. yah, dilematis memang....
tapi nurani saya mendominasi sekarang. mencoba membuat gagasan non komersil yang bahkan bisa membuat orang tertawa menghina atau mempertanyakan keseriusan saya. tapi kali ini saya serius, dengan tekat sebulat bumi.
namun sekali lagi,
gagasan ini harus tertelan begitu saja
pemikiran ini harus tercenung begitu saja.
seperti memendam cinta pertama saja rasanya.
tekad yang menggebu kini tersapu selembut debu yang kemudian hanya dapat saya simpan di hati
di sudut pikirku begitu saja.
sekali lagi, nurani terbentur dengan peradaban
Indonesia yang memilih nuansa modern akhirnya memaksa saya untuk mengikuti arus.
dan saya teringat tentang buku Dee - Perahu Kertas yang pernah saya baca..
besarnya cita-cita, besarnya gagasan harus rela tergerus arus untuk disimpan dan kemudian hari dibangkitkan
memang, sepertinya kita harus menjadi seperti apa yang orang lain inginkan, apa yang dibutuhkan peradaban, menjadi apa yang diperlukan zaman.
di tengah modernitas yang serba instan, serba komersil menuntut profesi yang semakin komersil pula.
seperti apa yang dikatakan Charles Darwin " mahkluk yang bisa bertahan, bukanlah yang paling kuat, yang paling pintar, melainkan yang paling bisa menyesuaikan zaman"
begitulah kurang lebihnya dunia ini.
nurani saya menginginkan saya untuk mengembangkan Rumah Sakit Jiwa, Sekolah Luar Biasa, Panti Rehab, Penampungan anak jalanan dan tuna wisma, ataupun sekear membangun sekolah alam.
tapi saya ini siapa?
saya bukan anak pejabat dewan rakyat yang kerap meraup keuntungan dengan mencekik kaum jelata
pun bukan anak konglongmerat yang uang-uangnya tidak akan cukup didesak-desakkan di lemari besi
sya juga bukan anak juragan sawit, yang bisa setiap kali panen langsung membeli mall dan seisinya.
lihatlah saya...
hanya seorang anak dari penjual nasi di pinggiran pasar
hidup beramai-ramai dengan 2 saudara saya yang lebih kecil.
saya hanya berasal dari keluarga sederhana,
yang alhamdulillah dititipin rejeki yang lebih dari Allah.
tapi pun hal ini tidak bisa membuat saya membangun RSJ, SLB atau bangunan sosial lainnya dengan penghasilan kedua orangtua saya,
atau bahkan dengan warisan eyang sya.
saya masih memiliki 2 saudara yang selalu membanggakan saya, mengharapkan saya menjadikan satu diantara mereka seorang dokter bedah, mengharapkan saya menjadikan satu diantara mereka cheff terkenal dari perancis. saya masih memiliki kedua orangtua yang akan hanya mengandalkan saya kelak untuk membangunkan restoran yang apik berderet di setiap kota. sya dilimpahi amanah demikian besar, yang mbuat saya semakin merapatkan nurani saya.
saya seorang wanita dengan keterbatasan dan kedigdayaan zaman, membuat saya berpikir panjang tentang masa depan saya.
menjadikan saya arsitek hebat yang dikenal dunia seperti Koolhass ataupun sekelas wnita hebat, Zaha Adid.
sekali lagi, seperti yang diakatan di novel Dee "Kadang kita harus menjadi orang lain, menjadi orang yang luar biasa sukses, milyarder muda dengan penghasilan mencengangkan, wanita karir dengan segudang prestasi untuk kemudian kembali kpada masyarakat.. kembali kepada nilai2 yang sempat ditelantarkan, kembali melongok pada nurani yang sempat terabaikan."
ya.....
hidup di masa skarang bukan hal mudah.
bukan lagi nurani yang berkuasa,
melainkan uang yang bertahta.
menjadikan kaum marjinal seperti saya ini harus mau tergerus arus.. siap siap bertahan untuk menjadi pemenang, penguasa yang bertahta yang akhirnya melompat ke tepian arus tertatih kembali kepada nurani yang sempat terabaikan.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact